by

Ajukan Pinjaman ke Koperasi Abal-Abal, Lansia Asal Bekasi Kena Bunga 36 Persen

Akuntabel.id, SOLO – Seorang lansia berinisial MH harus berhadapan dengan hukum terkait pinjaman di sebuah koperasi simpan pinjam. Kasus tersebut saat ini sudah masuk dalam tahap persidangan di Pengadilan Negeri Bekasi.

Kuasa Hukum MH, dari kantor Pardede Hutasoit & Partners Lawfirm, Bolmer Suryadi Hutasoit mengatakan, kasus itu bermula saat MH datang ke koperasi simpan pinjam (KSP) Sada Indo Utama untuk meminjam uang sebesar Rp400 juta. Pinjaman tersebut dilakukan pada 14 Januari 2022, dengan jangka waktu pinjaman selama 36 bulan.

Hutang tersebut terpaksa dilakukan MH untuk bertahan hidup dengan jaminan tanah dan rumah yang mereka tinggali. Sebab saat itu tengah berada pada saat kondisi pandemi Covid-19.

“Dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan usaha yang mandek dan biaya hidup untuknya dan istrinya. Angsuran pokok utang dan bunga pinjaman sebesar sebesar Rp23 juta. Tetapi ternyata MH hanya sanggup melakukan pembayaran dua kali angsuran saja sebesar Rp46 juta,” kata Bolmer didampingi Lawyer muda Sony Duga Bangkit Pardede, S.H dan Candra Lumbantoruan, S.H, saat ditemui di Kota Solo, Kamis (30/11/2023).

Setelah melakukan pembayaran, kliennya terkejut dengan pengurangan nilai pinjaman yang tidak mengalami perubahan yang signifikan. Dengan segala keterbatasan pemahaman terhadap perjanjian pinjaman baru, ternyata koperasi tersebut membebankan bunga pinjaman kepada sebesar 36 persen.

“MH kesulitan untuk membayar angsuran setiap bulan. Lalu pada tanggal 7 Juli 2023, sebagai bentuk keseriusan dan itikad baik, MH menghadap ke kantor koperasi, bertemu dengan pimpinan beserta jajaran KSP Sada Indo Utama untuk memohon agar suku bunga dan denda pinjaman yang terlalu tinggi dapat diperbaharui/diturunkan,” ucapnya.

Permohonan itu dilakukan, agar MH sanggup melanjutkan pembayaran angsuran pinjaman setiap bulannya. Namun, alih-alih mendapatkan kompensasi dari pihak koperasi, tidak berselang lama, MH dengan keadaannya yang telah lanjut usia kerap kali mendapatkan teror dan kata-kata kasar melalui telepon dari pihak koperasi.

“Koperasi menolak permohonan MH tersebut dan menegaskan apabila ingin melunasi pinjaman maka harus dengan angka pelunasan sebesar Rp1,7 miliar. Pelunasan tersebut dilakukan paling lambat pada bulan Desember 2023. Apabila MH tidak bersedia melakukan pelunasan maka tanah dan rumah yang menjadi jaminan akan dilakukan proses pelelangan oleh koperasi,” tuturnya.

Setelah mendalami kasus ini, pihaknya pun menemukan banyak sekali perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh pihak koperasi. Di antaranya MH dinyatakan sebagai anggota koperasi tanpa prosedur yang jelas dan tanpa adanya bukti keanggotaan berupa kartu/bukti legal lainnya.

“MH beserta kelurga bertemu dengan koperasi di Cabang Bekasi yang ternyata cabang tersebut tidak terdaftar secara legal dan tidak melakukan kewajiban usaha lainnya seperti memperlihatkan kelengkapan administrasi koperasi kepada anggota, dan tidak memasang papan nama,” bebernya.

Selain itu, Bolmer menjelaskan, setelah dinyatakan menjadi anggota koperasi, MH tidak pernah diundang menghadiri, menyatakan pendapat, dan memberikan suara dalam rapat anggota.

“Masih banyak perbuatan melawan hukum lainnya yang perlu dibuktikan di Pengadilan Negeri Bekasi. MH pun mengajukan gugatan agar diperlakukan bunga yang adil. Sejak awal MH pun menyatakan kepada kami seperti niat baiknya menemui koperasi, berniat baik melunasi pokok hutang yaitu Rp400 juta,” tandasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru